Sebuah kisah yang mungkin engkau tlah sering mendengarnya........
Pada suatu malam, khalifah Umar, sedang meronda di sekeliling kota dan kampung untuk melihat kondisi rakyatnya. Tiba-tiba ia, mendengar tangisan seorang anak. Lalu, sayyidina umar mendatanginya.
Ketika beliau menegok ke gubuk itu, beliau melihat ibu anak itu sedang memasak sesuatu di dapur. Tiap kali, sang anak melihat sang ibu sedang ,memasak, maka ia akan berhenti menangis. Karena makanannya yang tak kunjung selesai dimasak, maka sang anak kelelelahan menunggu dan akhirnya iavtertidur dalam kelaparannnya. Kondisi yang sangat memilukan itu membuat sayyidina Umar tertegun dan segera memberi salam, dan meminta izin untuk masuk ke dalam gubuk itu. beliau bertanya tentang kehidupan wanita ibu. Wanita itu mengadu, dia dan anaknya tak pernah makan berhari-hari, setiap anaknya, kelaparan, ai selalu berpura-pura sedang memasak di dapur, padahal yang ia masukkan untuk dimasak itu adalah sebuah ketul batu kedalam periuk. Melihat keadaan itu, sang anak berhenti menangis, karena menyangka ibunya sedang memasak.
Wanita itu lalu mengadu dan mengutuk khalifah sayyidina Umar karena tak bertanggung jawab kepada rakyatnya. Mendengar kutukan itu, sayyidina Umar terdiam sejenak. Lalu, sesaat, beliau meminta izin untuk keluar. Pada saat malam itu juga, sayyidina Umar menuju ke Baitul Mal lalu mengambil sendiri bebarapa kantong gandum untuk diberikan kepada wanita itu.
Ketika sampai di rumah itu, Sayyidina langsung memberi salam, dan masuk ke rumah itu. kemudian Beliau mengambil gandum itu itu untuk dimasaknya kepada wanita dan anaknya tadi. Wanita itu, masih dalam keadaan yang tak sadar, bahwa yang ada di depannya, dan memasakannya saat itu adalah khalifahnya sendiri, sayyidina Umar.
Setelah masakan itu siap, khalifah Umar menyajikannya kepada dan anaknya, sehingga mereka terlihat sangat gembira dan senang sekali. Lalu sang wanita itu berucap “ Kalaulah Sayyidina Umar yang berbuat seperti ini, alangkah baiknya......” (begitulah ucapannya, tanpa menyadari bahwa orang yang berada dihadapannya itu adalah Sayyidina Umar sendiri).
------------------------------------------
Iktibar....
Sahabatku, tanggung jawab sebagai seorang pemimpin amatlah berat, mengikut Nabi Muhammad saw, bahwa setiap dari jiwa kita adalah seorang gembala dan akan ditanya tentang hewan gembalaannya. Artinya, kita dituntut atas tanggung jawab kita terhadap bawahan kita.
Sahabatku, pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab pada rakyatnya akan memastikan bahwa kebajikan mereka dijaga dengan baik.
Sahabatku, pemimpin yang benar-benar pemimpin adalah mereka yang mengutamakan rakyatnya yang benar-tak berdaya daripada kepentingan pribadinya. Pemimpin sudah sepantasnya sanggup turun ke bawah, melihat kondisi rakyatnya dengan mata kepalanya sendiri dan dengan hati yang tulus ikhlas, melakukan setiap amalan yang terpuji tanpa mengharapkan pujian atau sanjungan. Dan seorang pemimpin yang baik adalah ia yang dengan tangan terbuak menerima kritikan dari rakyatnya.
Sahabatku, untuk yang terakhir, untuk menjadi pemimpin yang arif, bijaksana, memegang amanah, dan daapat bertanggung jawab dengan baik, serta demi keselamatan dunia akhirat, sudah seharusnya, kita mencontoh nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabat baginda.
Semoga bermanfaat........
_dengan sedikit perubahan dari ebook_
_alone with luph_
090210/2020
@kos BBs/evening
Tetap update tulisan dari Hesti Khuzaimah Nurul Yusufiyah di manapun dengan http://m.cybermq.com dari browser ponsel anda!



